Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang besar. Masyarakat dan bangsa Indonesia terdiri dari berbagai keragaman sosial, kelompok etnis, budaya, agama dan aspirasi politik, sehingga secara sederhana bangsa Indonesia dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Tumbuh di tengah perbedaan membiasakan diri kita untuk saling toleransi. “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya“. -Gus Dur-, begitulah kutipan yang disampaikan oleh Bapak Abdurrahman Wahid maka dari itu kita sebagai Pelajar, Guru ataupun Presiden toleransi itu mutlak harus ada dalam diri kita yaitu diri bangsa Indonesia, pada hari senin tanggal 08 Februari 2021 kemarin SMP Muhammadiyah 2 Depok melakukan kegiatan rutin senin pagi yaitu kegiatan Muhadesta Menyapa melalui akun Instagram @Muhadestaofficial dengan mengangkat tema “Toleransi Sesama manusia” yang disampaikan langsung oleh guru PPKn yaitu Ibu Fadilah Ainy S, S.Pd. adapun kutipan yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu “ Toleransi terhadap sesama manusia adalah cara kita menghargai diri sendiri” – Fadilah Ainy S-

Toleransi adalah kesediaan untuk menerima kepercayaan dan perilaku yang berbeda dari yang kita punya, yang mungkin tidak kita setujui atau benarkan. Apa itu penting? Ya kita butuh toleransi di dalam hidup kita agar kita hidup dengan damai. Sudah lama diketahui bahwa bumi ini di tinggali oleh orang-orang dengan ras, suku dan agama yang berbagai macam. Khususnya di Indonesia toleransi ini masuk ke dalam hukum negara. Karena toleransi inilah yang menjadi kunci perdamaian bagi masyarakat. Mari kita ambil contoh, Syifa yang keturunan cina memiliki kulit yang putih, dia tidak mau berteman dengan orang yang berbeda dari dirinya. Misalkan saja si Saras yang memiliki kulit sawo matang. Syifa tidak mau berteman dengan Saras karena dia berbeda, Saras tidak memiliki kulit yang putih. Akhirnya Saras menjadi merasa dikucilkan dan merasa rendah diri karena tidak memiliki kulit putih tadi. Dari hal kecil tadi, tentang warna kulit bisa menjadi besar jika dibiarkan dan bisa menjadi konflik dan juga perang.

Coba bayangkan jika kita hidup tanpa toleransi seperti contoh tadi, lalu ada konflik dan perang dimana-dimana. Kalau ada konflik? Ada perang? Kita tidak bisa hidup dengan damai apalagi berdampingan bukan? Sayangnya masih ada orang-orang di luar sana yang merasakan teror ini. Ketakutan akan dikucilkan, diejek dan ditertawakan hanya karena menjadi diri mereka sendiri dan hanya karena apa yang mereka yakini. Kalau kita ubah contoh tadi menjadi saling toleransi Syifa yang berkulit putih mau berteman dengan siapa saja dan tidak menganggap hal yang berbeda dari dirinya suatu hal yang patut untuk dihindari. Nantinya Syifa dan Saras dapat berteman dan Saras tidak merasa di kucilkan apalagi renda diri karena memiliki warna kulit sawo matang.

Jika sikap toleransi ini ada disetiap manusia maka nantinya diri kita sendiri akan lebih mencintai dan menghargai. Manfaatnya apa? Tidak akan ada yang merasa direndahkan dan merasa rendah diri. Jangankan rasa rendah diri dan direndahkan, konflik dan perang juga tidak akan terjadi. Pesan terakhir, cobalah untuk toleransi mulai sekarang karena toleransi sesama manusia adalah cara kita menghargai diri sendiri.

 

Narasumber: Fadilah Ainy Safry, S.Pd.
Content Writer: Beti Rahayu, S.Pd.

INFO PPDB 2021/2022. Miss Lisa: 0856-5361-213

muhadestaBERITA SEKOLAHmuhadesta,muhadestajuara,muhadestamenyapa,toleransi
Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang besar. Masyarakat dan bangsa Indonesia terdiri dari berbagai keragaman sosial, kelompok etnis, budaya, agama dan aspirasi politik, sehingga secara sederhana bangsa Indonesia dapat disebut sebagai masyarakat multikultural. Tumbuh di tengah perbedaan membiasakan diri kita untuk saling toleransi. 'Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin...